Aku hamil

Aku sudah berupaya semampuku untuk bisa menyelesaikan status pernikahan dengan pria muslim sedangkan aku kristen dibawah undang-undang pernikahan dengan agama yang sama bukanlah sesuatu  yang mudah di Indonesia namun bukan pula yang mustahil , terlebih jika hal tersebut menyangkut status anak di mata negara.

Bapak dari anakku adalah seorang muslim dan aku seorang kristen. Dia seorang suku sasak yang berasal dari Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dimana sumber mata pencaharian kebanyakan penduduknya adalah petani padi di musim penghujan yang panen lalu di musim kering digantikan dengan tanaman tembakau. Yang nota bene hanya mereka yang bermodalkan kuat lah yang mampu menanam tembakau. Karena butuh biaya yang sangat besar untuk itu.
 Tidak ada mata pencaharian yang lainnya selain kedua hal tersebut. Oleh karena itulah kebanyakan pria usia angkatan kerja banyak merantau ke Malaysia untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau menabung bagi yang belum menikah untuk modal berumah tangga. Namun banyak dari mereka yang tetap mengais Ringgit bertahun-tahun tanpa ada pengetahuan finansial hingga terjebak dalam lobang kemiskinan. 

Pengaruh lingkungan sangat buruk disana terlebih untuk anak usia sekolah. Anak-anak pada umumnya enggan bersekolah, lingkungan pemabuk, Casanova, penjudi, dan bahkan kawin cerai yang tinggi.

Disaat aku   bertemu dengan Bapaknya anakku di Malaysia ditahun 2003 disaat aku berumur 24 tahun, dia bekerja untuk membangun masa depan untuk keluarga impiannya . Aku cukup naif, bego untuk menyerahkan segala jiwa dan ragaku kedalam pelukannya. Tinggal  serumah dengannya dengan mengharapkan perlindungan dan tanggung jawab seorang pria yang sudah menginginkanku tanpa berpikir matang hanya karena saat itu aku lari dari pabrik dimana aku harus bekerja dan menghabiskan kontrak kerja . Yang aku pikir bahwa aku akan aman dengannya . 

Cinta itu buta adalah benar adanya. Aku menjadi  buta.  Benar-benar buta atau bahkan tidak waras. Yang ada waktu itu aku ingin aman di bawah lindungannya . Aku menepis teriakan hati nurani saat di malam pertama dia menyentuh tubuh ini. Sesuatu yang dilarang agama kami lakukan . Bersetubuh layaknya suami istri yang sah. 
Dia tipe yang sangat romantis dan memuaskan di tempat tidur dengan gaya -gaya seks yang semuanya tentu baru bagiku.  Sentuhan tangan, kecupannya membuatku merintih , mendesah , menggeliat hingga akhirnya aku dan dia mencapai puncak asmara yang begitu memuaskan. Aku menjadi candu. Aku mabok. Mabok dengan gairah seks yang dia berikan. Tiap malam hampir dua jam atau bahkan lebih tubuh kami saling menghimpit, menjilat, meraba, mencium, merintih, mendesah , menggelitik dengan keringat bercucuran, menginginkan benda itu untuk saling menggeser dan menggesek, keluar masuk diantara selangkangan kami, hingga kembali kami merasakan kenikmatan yang luar biasa tiada tara. Dan itu bisa terjadi sekali lagi hingga akhirnya kami tertidur pulas kelelahan hampir menjelang pagi. Atau bahkan lagi  di saat menjelang subuh.

Kurang dari dua bulan dia membuat diriku hamil. Aku bahkan tidak tau aku hamil !! Dan Usia kehamilanku tiga bulan disaat aku sadar benar bahwa aku sedang mengandung anaknya! Tapi aku belum dinikahi secara sah!! Antara sedih dan bahagia karena aku sedang mengandung, aku tetap rela tidak dinikahi. Karena aku takut, takut ditinggalkan. Apalagi aku sedang hamil. Dia meyakinkanku bahwa dia tidak akan meninggalkan ku dan anak kami. 
Kami tetap menikmati seks malam kami yang panjang dan yang menggairahkan nan memabukkan. Walaupun perut ini sudah mulai membuncit. Yang tak bisa disembunyikan lagi..

Komentar

Postingan Populer