Bayi gede
Pertama kali melihat pasangan suami istri muda tersebut, paras mereka ibarat pasangan boneka Barbie dan Ken. Sungguh tampan sang pria, dan sungguh cantik mempesona sang wanita.
Namun, dibalik kecantikan dan ketampanan tentunya ada kejelekan dan kelemahan.
Pekerjaan cukup cukup mapan dikedua belah pihak. Tapi....ya ampun!!! Kenapa si pria seperti bayi gede? Bedanya cuma tidak disuapin makan ataupun dipakaikan popok dan digendong. Tapi masih diladeni oleh kedua orangtua.( Si Ibu mencucikan pakaiannya, luar dalam. Menyiapkan cangkir atau peralatan makan saat mau makan, menyiapkan minuman pagi sebelum berangkat kerja, atau bahkan membelikan sarapan di hari weekend. Begitupun sang ayah, bedanya dia tidak mencuci pakaian anaknya)
Antara heran dan bingung, aku bertanya tanya dalam hati, "Apakah semua anak lelaki tunggal dari orangtua yang mapan hidupnya seperti itu di Singapura ini? Aneh bin ajaib, karena seumur umur tidak pernah kutemukan yang seperti itu. Teringat dengan seorang tokoh yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, seorang anak laki laki yang memiliki sakit jiwa, Mother Complex yang sangat akut, yang tak mampu hidup tanpa ibunya, hingga ibunya terpaksa tinggal dengan anak lelakinya di rumah sakit jiwa karena tidak tahan melihat penderitaan anaknya. Sungguh miris cerita tersebut, sehingga aku juga mulai berprasangka apakah sang anak lelaki dan kedua orangtua ini juga mengidap suatu penyakit jiwa yang mirip dengan cerita tersebut. Mungkin...
Sang istri dari pria bayi gede tersebut pemalasnya minta aampuuuuun. Membersihkan kamarnya saja tidak bisa ataupun merapikan meja tulisnya, ataupun mencuci gelas bekas minumannya.
Parfum wangi nan semerbak , tercium tajam hingga 10 meter untuk menutupi bau ketek yang tidak pernah mandi pagi berangkat kerja.
Senyumannya indah mempesona saat mengucapkan terimakasih tapi pelit setengah mati walau aku sudah cuci, gosok bajunya dan siapkan sarapannya.
Aku bukan siapa siapa bagi mereka, tapi kebiasaan dan tabiat mereka menimbulkan banyak pertanyaan...
Namun, dibalik kecantikan dan ketampanan tentunya ada kejelekan dan kelemahan.
Pekerjaan cukup cukup mapan dikedua belah pihak. Tapi....ya ampun!!! Kenapa si pria seperti bayi gede? Bedanya cuma tidak disuapin makan ataupun dipakaikan popok dan digendong. Tapi masih diladeni oleh kedua orangtua.( Si Ibu mencucikan pakaiannya, luar dalam. Menyiapkan cangkir atau peralatan makan saat mau makan, menyiapkan minuman pagi sebelum berangkat kerja, atau bahkan membelikan sarapan di hari weekend. Begitupun sang ayah, bedanya dia tidak mencuci pakaian anaknya)
Antara heran dan bingung, aku bertanya tanya dalam hati, "Apakah semua anak lelaki tunggal dari orangtua yang mapan hidupnya seperti itu di Singapura ini? Aneh bin ajaib, karena seumur umur tidak pernah kutemukan yang seperti itu. Teringat dengan seorang tokoh yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, seorang anak laki laki yang memiliki sakit jiwa, Mother Complex yang sangat akut, yang tak mampu hidup tanpa ibunya, hingga ibunya terpaksa tinggal dengan anak lelakinya di rumah sakit jiwa karena tidak tahan melihat penderitaan anaknya. Sungguh miris cerita tersebut, sehingga aku juga mulai berprasangka apakah sang anak lelaki dan kedua orangtua ini juga mengidap suatu penyakit jiwa yang mirip dengan cerita tersebut. Mungkin...
Sang istri dari pria bayi gede tersebut pemalasnya minta aampuuuuun. Membersihkan kamarnya saja tidak bisa ataupun merapikan meja tulisnya, ataupun mencuci gelas bekas minumannya.
Parfum wangi nan semerbak , tercium tajam hingga 10 meter untuk menutupi bau ketek yang tidak pernah mandi pagi berangkat kerja.
Senyumannya indah mempesona saat mengucapkan terimakasih tapi pelit setengah mati walau aku sudah cuci, gosok bajunya dan siapkan sarapannya.
Aku bukan siapa siapa bagi mereka, tapi kebiasaan dan tabiat mereka menimbulkan banyak pertanyaan...
Komentar
Posting Komentar