PDA
Tak sengaja aku dan seorang rekan melihat adegan sepasang kekasih yang dimabuk asmara berpelukan lalu berciuman, berusaha menopang tubuhnya sambil memegang gantungan di MRT. Sontak kami tersipu malu lalu membuang wajah berusaha menghindari pemandangan tersebut. Kami sedikit iri, karena kami adalah jomblowati dan sekaligus iri pada negara yang memberikan keleluasaan kepada rakyatnya untuk mengekspresikan rasa cinta kepada pasangan di muka umum. Adegan seperti itu termasuk biasa dan hampir setiap hari ada saja yang ber- Public Display Affection. Itu adalah urusan mereka ber- PDA, itu adalah ranah privasi yang tak boleh kita terobos. Namun disaat kumpul bareng sesama rekan dan ada yang mengatakan bahwa mereka adalah makhluk yang tak beragama dan tak berTuhan sehingga moralnya melenceng, karena kebanyakan makan babi, tak ayal, komen tersebut kadang bikin sakit kepala sambil mengelus dada . Itu adalah salah. Tak pantas rasanya menilai hal tersebut dengan kacamata itu. Yang mengata...
